Sang Penjaga Hutan Berau
Kalimantan
Timur dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan alam yang luar biasa
di Indonesia. Hutan lebat, sungai yang membentang, serta keberagaman flora dan
fauna menjadikannya paru-paru bagi kehidupan. Namun, kekayaan itu kian hari
kian menipis akibat ulah manusia. Penebangan liar, pembukaan lahan tanpa izin,
hingga aktivitas tambang ilegal terus menggerus alam Borneo. Jika dibiarkan,
bukan tidak mungkin wilayah ini akan menghadapi bencana besar seperti banjir,
tanah longsor, dan kepunahan spesies endemik yang tak ternilai.
Sumber Foto: Kompasiana
Di
tengah kondisi genting itu, muncul sosok yang memilih tidak tinggal diam. Ia
adalah Franly Aprilano Oley, seorang pria muda yang mendedikasikan hidupnya
untuk menjaga kelestarian hutan Berau.
Cinta
Alam yang Menjadi Panggilan Hidup
Franly
Aprilano Oley lahir di Manado, Sulawesi Utara, tahun 1992. Sejak kecil ia telah
menunjukkan kepedulian tinggi terhadap alam. Ia tumbuh dengan kesadaran bahwa
hutan adalah sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk lain.
Setelah
lulus SMA, Franly memutuskan untuk merantau ke Kalimantan Timur pada 2012. Di
sana, ia bekerja sebagai pemandu wisata di Taman Nasional Kutai. Pekerjaan itu
membuka matanya terhadap besarnya potensi ekowisata yang bisa tumbuh selaras
dengan konservasi. Dari pengalaman itulah tumbuh tekad di hati Franley untuk
menjaga dan melestarikan hutan, baik bagi generasinya, maupun untuk masa depan
anak cucu.
Tiga
tahun kemudian, pada 2015, Franly memulai langkah baru sebagai penjaga hutan di
Kampung Merabu, Berau. Ia bergabung dalam organisasi lingkungan setempat dan
aktif melakukan patroli untuk mencegah penebangan liar dan perambahan hutan.
Meski awalnya bergerak dengan sumber daya terbatas, Franly yakin bahwa tindakan
kecil pun bisa membawa perubahan besar bila dilakukan dengan hati dan
konsistensi.
Menghidupkan
Merabu Lewat Ekowisata
Menjadi
penjaga hutan tidak membuat Franly berhenti pada aksi perlindungan semata. Ia
juga berpikir bagaimana agar masyarakat sekitar bisa hidup sejahtera tanpa
merusak alam. Ia melihat potensi besar di Kampung Merabu, sebuah desa kecil
yang dikelilingi bentang alam karst menakjubkan, sungai jernih, dan gua-gua
purbakala.
Sebagian
besar warga Merabu bekerja sebagai petani, pengumpul madu, atau pencari sarang
burung walet. Sebagian lainnya menebang kayu gaharu dari hutan kapur di sekitar
desa. Aktivitas itu memang menjadi tumpuan ekonomi, tapi di sisi lain mengancam
keberlanjutan hutan. Dari sinilah Franly mulai menggerakkan masyarakat untuk
beralih pada kegiatan yang lebih ramah lingkungan.
Ia
mengajak warga membangun desa wisata berbasis konservasi. Dengan menjadi Kepala
Desa Merabu pada 2011, Franly punya kesempatan lebih besar untuk mewujudkan
gagasannya. Ia menggandeng pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan
para ahli untuk mengembangkan wisata alam berkelanjutan.
Bersama
warga, ia mendirikan Lembaga Kerima Puri, yang berfungsi mengelola dan
mempromosikan potensi wisata Merabu. Upaya itu berbuah manis setelah perjuangan
panjang: pemerintah akhirnya mengeluarkan Surat Keputusan Hak Pengelolaan Hutan
Desa (HPHD) seluas 8.245 hektar.
Edukasi
dan Pembatasan demi Alam Lestari
Perubahan
tidak datang seketika. Awalnya, banyak warga yang ragu dengan ide Franly. Namun
seiring waktu, hasilnya mulai terlihat. Merabu berubah menjadi destinasi wisata
alam yang memikat, baik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Panorama
tebing karst, air sungai yang jernih, hingga Goa Beloyot dengan lukisan
purbakalanya, menjadi daya tarik utama.
Meski
jumlah wisatawan meningkat, Franly tetap menomorsatukan kelestarian alam. Ia
menetapkan batas kunjungan, yaitu maksimal 10 orang untuk masuk ke Goa Beloyot
dan 30 orang untuk kunjungan ke Kampung Merabu dalam satu waktu. Wisatawan juga
diberi pengarahan sebelum memasuki kawasan hutan agar menghormati adat dan
menjaga kebersihan lingkungan.
Langkah
ini tidak hanya menjaga keseimbangan alam, tapi juga menumbuhkan kesadaran
bersama bahwa pariwisata dan konservasi bisa berjalan beriringan. Franly
menegaskan bahwa keindahan alam harus diwariskan pada generasi selanjutnya.
Merabu
Mendunia
Ketekunan
Franly dalam menjaga hutan dan membangun desa wisata berbasis konservasi
akhirnya menarik perhatian banyak pihak. Pada 2018, kisahnya bersama keindahan
pegunungan karst Merabu diliput oleh Lonely Planet, media internasional yang
terkenal dengan liputan wisata dunia.
Di
tahun yang sama, perjuangannya pun mendapat apresiasi nasional. Ia menerima
penghargaan SATU Indonesia Awards 2018 kategori Lingkungan, yang
diselenggarakan oleh PT Astra International Tbk. Penghargaan ini menjadi bukti
nyata bahwa upaya menjaga alam bisa dilakukan siapa pun, bahkan dari desa
terpencil sekalipun.
Kini,
Kampung Merabu dikenal sebagai salah satu contoh sukses pengelolaan hutan
berkelanjutan di Indonesia. Ekonomi masyarakat meningkat, kesadaran lingkungan
tumbuh, dan wisatawan terus berdatangan menikmati keindahan alam yang tetap
terjaga. Semua itu berawal dari langkah sederhana seorang pemuda yang mencintai
bumi.
Warisan
untuk Generasi Mendatang
Bagi
Franly, menjaga hutan bukan sekadar pekerjaan, tapi bentuk rasa syukur kepada
alam. Ia percaya, hutan bukan hanya warisan nenek moyang, melainkan titipan
yang harus dijaga untuk generasi berikutnya. Karena itu, ia terus mengedukasi
anak-anak muda di desanya agar mencintai dan memahami pentingnya konservasi
sejak dini. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Begitu prinsip hidup
yang selalu ia pegang.
Perjuangan
Franly Aprilano Oley merupakan kisah nyata tentang keberanian, ketulusan, dan
cinta terhadap bumi. Merabu telah memberi pesan bahwa perubahan besar bisa
lahir dari satu tekad kecil, yaitu menjaga hutan untuk kehidupan.
Comments
Post a Comment